Ads
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Recently Lyrics Updated

Amenorrhea adalah gangguan dalam sistem reproduksi wanita, sehingga membuatnya tidak mengalami menstruasi secara rutin setiap bulannya. Amenorrhea terbagi menjadi dua jenis, yaitu amenorrhea primer dan sekunder.

Pada amenorrhea primer, menstruasi sama sekali tidak terjadi. Padahal normalnya seorang remaja putri mengalami menstruasi yang pertama kali (menarche) pada usia 9-18 tahun. Seorang remaja putri akan divonis mengalami amenonhea primer jika pada usia lebih dari 16 tahun masih belum juga mengalami menstruasi.

Adapun amenorrheo sekunder terjadi pada wanita yang sebelumnya pernah mengalami menstruasi, tetapi kemudian siklus tersebut berhenti tanpa alasan yang diketahuinya.

Tanda-Tanda

Siklus menstruasi terhenti baik secara langsung maupun bertahap.

Penyebab
  1. Penurunan berat badan secara drastis (akibat kemiskinan, diet yang salah, anoreksia nervosa, bulimia nervosa, aktivitas fisik yang sangat berat dan penyebab lainnya).
  2. Obesitas yang ekstrem.
  3. Penyakit kronis yang diderita dalam jangka waktu yang lama.
  4. Abnormalitas organ genital wanita (tidak adanya uterus, vagina, septum vagina, stenosis servikal, dan selaput dara yang terlalu tebal).
  5. Tubuh mengalami kelainan seperti hipoglikemia (kadar gula darah secara abnormal rendah), hipotiroidisme (kelenjar tiroid kurang aktif), hipertiroidisme (kelenjar tiroid bekerja secara berlebihan), cystic fibrosis (penyakit yang diturunkan atau diwariskan dari kelenjar-kelenjar lendir dan keringat), atau cushing’s disease (kadar kortikosteroid berlebihan).
  6. Wanita yang pernah mengalami kelainan penyakit polikistik ovarium mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit Amenorrhea.
  7. Adanya penyakit akibat kelainan kromosom seperti Sindrom Turner atau Sindrom Sawyer.
  8. Kadar hormone prolaktin di dalam tubuh cukup tinggi (hiperprolaktinemia).
  9. Kehamilan.
  10. Stres.
  11. Ketidakseimbangan mekanisme sistem hormon reproduksi wanita.

Pencegahan
  1. Jika amenorrhea terjadi karena penyakit bawaan seperti Sindrom Turner dan Sindrom Sawyer atau karena abnormalitas organ genital, maka penyakit ini tidak dapat dicegah.
  2. Menjaga keseimbangan berat badan agar tidak terlalu gemuk (obesitas) atau terlalu kurus.
  3. Melakukan pola hidup yang sehat baik dengan cara mengonsumsi makanan yang sehat, melakukan olahraga secara teratur, dan hidup dengan bahagia.
  4. Jauhi penyebab stres.
Anemia lebih dikenal masyarakat sebagai penyakit kurang darah. Penyakit ini rentan dialami oleh balita, wanita hamil, wanita, dan para pekerja pada umumnya. Ada dua tipe anemia yang dikenal selama ini yaitu anemia gizi dan non-gizi.

Anemia gizi adalah keadaan kurang darah akibat kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan serta produksi sel-sel darah merah, baik kualitas maupun kuantitasnya.

Anemia gizi itu sendiri ada beberapa macam, yaitu:
  1. anemia gizi besi,terjadi karena kekurangan pasokan zat besi (Fe). Zat besi merupakan inti molekul hemoglobin yang merupakan unsur utama dalam sel darah merah. Jadi, kekurangan pasokan zat besi bisa menyebabkan menurunnya produksi hemoglobin.
  2. anemia gizi vitamin E, vitamin E merupakan faktor esensial bagi integritas sel darah merah. Kekurangan vitamin E dapat mengakibatkan integritas dinding sel darah merah menjadi lemah dan tidak normal sehingga sangat sensitif terhadap hemolisis (pecahnya sel darah merah)
  3. anemia gizi asam folat, sering disebut juga dengan anemia megaloblastik atau makrositik. Dalam hal ini keadaan sel darah merah penderita tidak normal dengan ciri-ciri bentuknya lebih besar, jumlahnya sedikit, dan belum matang.
  4. anemia gizi vitamin B12 atau disebut juga pernicious. Gejalanya mirip dengan gejala pada anemia gizi asam folat, tetapi disertai dengan gangguan pada sistem pencernaan bagian dalam.
  5. anemia gizi vitamin B6 atau disebut juga siderotic. Keadaannya mirip dengan anemia gizi besi, tetapi jika darah dites di laboratorium, serum besinya normal.


Anemia non-gizi bisa terjadi akibat pendarahan, seperti luka akibat kecelakaan, haid, atau penyakit darah yang bersifat genetis seperti thalasemia (kerusakan DNA), hemofilia (kelainan pembekuan darah), dan lain-lain.

Tanda-Tanda
  1. Mengalami 4 L (lemah, lesu, letih, dan lelah).
  2. Wajah pucat.
  3. Anggota badan seperti tangan dan kaki merasa kesemutan.
  4. Mata berkunang-kunang.
  5. Jantung berdegup kencang.
  6. Kurang bergairah.

Penyebab
  1. Kekurangan zat besi sehingga secara seluler terjadi pengecilan ukuran sel darah merah (microcytic). Hal itu menyebabkan rendahnya kandungan hemoglobin (hypochromic) dan berkurangnya jumlah sel darah merah.
  2. Kekurangan asam folat dan atau vitamin Bn. Kedua zat tersebut diperlukan dalam pembentukan nukleoprotein untuk proses pematangan sel darah merah dalam sumsum tulang.
  3. Kekurangan vitamin B12 dan disertai gangguan pada sistem pencernaan bagian dalam. Pada jenis yang kronis bisa merusak sel-sel otak dan asam lemak menjadi tidak normal serta posisinya pada dinding sel jaringan saraf berubah. Dikhawatirkan, penderita akan mengalami gangguan kejiwaan.
  4. Kekurangan vitamin B5 akan mengganggu sintesis (pembentukan) hemoglobin. Penanganan gizinya bisa dilakukan dengan memberikan suplemen vitamin B6 secara oral dengan dosis 50-200 mg/hari atau sesuai anjuran dokter gizi.

Pencegahan
  1. Mengonsumsi bahan makanan sumber utama zat besi, asam folat, vitamin B6, dan vitamin B12 seperti daging dan sayuran sesuai kecukupan gizi yang dianjurkan.
  2. Melakukan tes laboratorium untuk mengetahui kandungan B12 dalam darah sehingga bisa membedakan antara anemia biasa dengan anemia pernicious. Bila ternyata kadar vitamin B12 normal, maka dapat dilakukan pemberian asam folat dengan dosis 0,1-1,0 mg/hari.
  3. Melakukan tes darah secara rutin untuk melihat profil darah dan mencegah terjadinya anemia.
Istilah KEK atau kurang energi kronik merupakan istilah lain dari Kurang Energi Protein (KEP) yang diperuntukkan untuk wanita yang kurus dan lemak akibat kurang energi yang kronis. Definisi ini diperkenalkan oleh World Health Organization (WHO).

Kurang energi kronik merupakan jenis KEP akibat kurang energi yang lebih menonjol dari kurang proteinnya. WHO juga menggunakan istilah kurus untuk KEK ini.

Kurus berdasarkan tingkat keparahannya terbagi menjadi tiga, yaitu kurus tingkat ringan (mild), sedang (moderate), dan berat (severe) atau orang yang kurus sekali.

Tanda-Tanda
  1. Lingkar lengan atas sebelah kiri kurang dari 12,5 cm.
  2. Kurang cekatan dalam bekerja.
  3. Sering terlihat lemah, letih, lesu, dan lunglai.
  4. Jika hamil cenderung akan melahirkan anak secara prematur atau jika lahir secara normal bayi yang dilahirkan biasanya berat badan lahirnya rendah atau kurang dari 2.500 gram.

Penyebab
  1. Kemiskinan, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
  2. Ingin kurus demi pekerjaan atau obsesi terhadap tubuh yang kurus.

Pencegahan
  1. Pemberdayaan ekonomi masyarakat sehingga mereka mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka, terutama dalam mencukupi kebutuhan akan makanan bergizi.
  2. Memberikan pengertian bagi mereka dengan profesi yang menuntut memiliki tubuh kurus tentang bahaya tubuh yang terlalu kurus apalagi jika mereka menguruskan badan dengan cara tidak lazim, seperti anoreksia atau bulimia.
Banyak orang yang sering menganggap sepele penyakit sariawan. Memang penyakit ini terlihat tidak penting, tetapi sebenarnya penyakit ini sangat mengganggu penampilan dan bisa saja membuat kita menjadi tidak percaya diri, apalagi jika harus berbicara di depan umum atau rapat direksi yang sangat penting, padahal kita sedang sariawan. Bisa saja kita kehilangan promosi yang seharusnya bisa kita dapatkan. Mengapa? Itu karena rasa sakit yang kita rasakan di mulut.

Tanda-Tanda
  1. Terdapat luka di bagian selaput lendir pada daerah mulut namun tidak dalam.
  2. Terkadang diikuti oleh infeksi pada daerah sekitar mulut.
  3. Bagian yang terluka terasa perih dan kadang mengeluarkan darah atau nanah.
  4. Jika sariawan dibarengi dengan infeksi akan ditandai dengan munculnya gelembung berisi cairan di mulut. Gelembung ini bisa pecah dan membentuk luka yang akan menimbulkan rasa nyeri sehingga kita tidak nyaman ketika berbicara dan makan.

Penyebab
  1. Tidak cocok dengan pasta gigi yang digunakan.
  2. Kurang mengonsumsi vitamin C.
  3. Kurang mengonsumsi sayur dan buah-buahan.
  4. Kurang menjaga kebersihan mulut dan gigi.

Pencegahan
  1. Mengonsumsi vitamin C sesuai dengan kebutuhan tubuh.
  2. Mengkonsumsi air putih minimal delapan gelas per hari.
  3. Banyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan yang tinggi kandungan seratnya. Ini berguna untuk memperlancar peredaran air liur yang bisa membantu proses remineralisasi permukaan gigi, sehingga pengeroposan gigi pun bisa tercegah.
  4. Menyikat gigi secara perlahan dengan menggunakan sikat gigi yang berbulu halus.
  5. Memeriksakan gigi dan mulut ke dokter mulut dan gigi secara rutin setiap enam bulan sekali.