Ads
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Recently Lyrics Updated

Ambeien adalah pembengkakan pada dinding anus baik terjadi di luar atau di dalam anus. Sebagai deteksi awal, untuk dinding anus bagian luar dapat kita pegang. Untuk anus bagian dalam, kita dapat menyentuhnya dengan memasukkan jari ke dalam lubang anus.

Tanda-Tanda
  1. Terjadi pembengkakan pada dinding anus bagian luar atau bagian dalam.
  2. Jika buang air besar, terasa sakit.
  3. Awalnya dimulai dengan kesulitan buang air besar.



Penyebab
  1. Faktor keturunan. Anakyang lahir dari orangtua yang menderita ambeien lebih rentan mengalami ambeien daripada yang tidak.
  2. Kurang mengonsumsi buah-buahan dan makanan berserat.
  3. Banyak mengonsumsi makanan pedas.
  4. Terlalu banyak duduk.
  5. Kurang berolahraga.

Pencegahan
  1. Banyak mengonsumsi makanan yang berserat, seperti buah-buahan dan sayuran untuk memperlancar buang air besar.
  2. Mengurangi konsumsi makanan berlemak atau yang terlalu pedas.
  3. Banyak minum air untuk memperlancar pergerakan makanan dalam usus.
  4. Melakukan aktivitas fisik secara teratur juga dapat memperlancar pergerakan usus, sehingga membantu dalam melancarkan buang air besar.
Bau mulut atau juga dikenal sebagai halitosis bisa dialami oleh siapa saja. Bau mulut berkaitan dengan kebersihan mulut kita. Tentunya tidak menyenangkan, jika kita berbicara tiba-tiba orang-orang pergi menghindari kita.

Salah satu penyebab bau mulut adalah adanya senyawa belerang yang melekat di permukaan lidah. Bakteri-bakteri lidah menghasilkan senyawa-senyawa berbau menyengat dan asam-asam lemak yang merupakan 80-90% penyebab bau mulut

Tanda-Tanda

Mulut mengeluarkan bau yang tak sedap.


Penyebab
  1. Mengonsumsi makanan yang berbau tajam, seperti bawang putih atau bawang merah.
  2. Menumpuknya plak bakteri pembusuk dari partikel makanan yang ada pada gigi, gusi, dan lidah.
  3. Mulut kering selama tidur.
  4. Adanya gangguan pencernaan.
  5. Konstipasi/sembelit.
  6. Merokok.
  7. Konsumsi obat-obatan tertentu yang memungkinkan banyaknya sel mati mengumpul pada lidah, gusi, dan dinding bagian dalam pipi.
  8. Memiliki gigi berlubang sehingga bakteri bisa bersarang di dalamnya.
  9. Jarang menyikat gigi, terutama setelah makan.

Pencegahan
  1. Memelihara kebersihan gigi dan mulut dengan menyikat gigi dan lidah, minimal dua kali sehari (sehabis makan dan sebelum tidur).
  2. Membersihkan gigi dengan benang gigi agar tidak ada sisa makanan yang terselip di antara gigi.
  3. Berkumur dengan cairan pembersih mulut, sehingga mulut akan terasa lebih segar.
  4. Minum air putih sebanyak-banyaknya agar tidak ada bakteri yang menumpuk di dalam mulut dan tenggorokan.
  5. Tidak merokok.
  6. Minum air teh beraroma mint.
  7. Banyak mengonsumsi kemangi.
  8. Berkumur dengan air garam.
  9. Periksa ke dokter gigi minimal enam bulan sekali.
Bulimia nervosa adalah jenis gangguan makan yang hampir serupa dengan anoreksia nervosa. Perbedaan antara anoreksia dan bulimia adalah jika pengidap anoreksia, penderita berusaha keras untuk menahan rasa lapar dan berupaya sekeras mungkin tidak makan dalam jumlah yang besar, bisa tahan ‘hidup’ hanya dengan makan 2-3 sendok nasi per hari, tidak demikian halnya dengan penderita bulimia.

Penderita bulimia mempertahankan bentuk tubuhnya selangsing mungkin dengan cara makan berlebihan untuk memuaskan keinginan, tetapi selanjutnya dimuntahkan kembali sehingga makanan yang tersisa dalam sistem pencernaan hanya sedikit.

Dengan demikian, mereka terhindar dari gemuk dan tetap menjadi langsing tanpa perlu menahan keinginan untuk makan.


Tanda-Tanda

  1. Umumnya sulit diketahui secara penampakan fisik karena mereka sama sekali tidak terlihat seperti orang yang terkena gangguan makan. Tubuh mereka langsing ideal.
  2. Jika dilihat secara anatomi fisiologi, tenggorokan mereka umumnya mengalami perbedaan struktur karena terlalu sering terpapar makanan yang mereka muntahkan.
  3. Mengalami gangguan gigi karena terlalu sering memuntahkan makanan.
  4. Jika seseorang banyak mengonsumsi cairan atau obat pencahar secara berlebihan.
  5. Makan berlebihan, tetapi tetap langsing.
  6. Setelah makan, tidak lama kemudian langsung pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan semua makanan yang baru saja dikonsumsinya.
  7. Merasa bersalah jika makan berlebihan.
  8. Terlalu sering menimbang berat badan.

Penyebab

  1. Body image, seperti halnya penderita anoreksia nervosa. (Lihat pembahasan penyakit anoreksia nervosa).
  2. Faktor pasti lainnya belum diketahui, tetapi bisa dikaitkan dengan adanya masalah keluarga, kepribadian yang perfeksionis, atau terlalu mementingkan penampilan.
  3. Depresi.
  4. Pengaruh kelompok sebaya (per group).
 Pencegahan

  1. Bulimia nervosa merupakan penyakit yang disebabkan oleh persepsi. Oleh karena itu, pencegahan yang seharusnya dilakukan adalah menanamkan keyakinan bahwa kurus bukanlah segala-galanya.
  2. Jika kita mengetahui ada teman atau kerabat yang menderita bulimia nervosa, maka harus segera memberikan pertolongan dengan membawa mereka berobat ke psikolog, dokter, atau ahli gizi.
  3. Keluarga dan teman-teman merupakan komponen penting untuk membentuk persepsi bahwa body image yang ideal tidak selalu berarti kurus atau langsing.
  4. Menanamkan kesadaran bahwa kurus atau langsing tidak selalu berarti sehat dan gemuk bermakna buruk.
Dispepsia adalah nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas atau dada, yang sering dirasakan sebagai adanya gas, perasaan penuh atau rasa sakit atau rasa terbakar di perut.

Penyebab 
  1. Menelan udara (aerofagi)
  2. Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung
  3. Iritasi lambung (gastritis)
  4. Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis
  5. Kanker lambung
  6. Peradangan kandung empedu (kolesistitis)
  7. Intoleransi laktosa  (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya)
  8. Kelainan gerakan usus
  9. Kecemasan atau depresi



Tanda-Tanda

Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada mungkin disertai dengan sendawa dan suara usus yang keras (borborigmi). Pada beberapa penderita, makan dapat memperburuk nyeri; pada penderita yang lain, makan bisa mengurangi nyeri. Tanda-tanda lain meliputi nafsu makan yang menurun, mual, sembelit, diare dan flatulensi (perut kembung).


Diagnosa

Jika dispepsia menetap selama lebih dari beberapa minggu, atau tidak memberi respons terhadap pengobatan, atau disertai penurunan berat badan atau gejala lain yang tidak biasa, maka penderita harus menjalani beberapa pemeriksaan, yaitu:
  • Pemeriksaan laboratorium biasanya meliputi hitung jenis sel darah yang lengkap dan pemeriksaan darah dalam tinja.
  • Barium enema untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus halus dapat dilakukan pada orang yang mengalami kesulitan menelan atau muntah, penurunan berat badan atau mengalami nyeri yang membaik atau memburuk bila penderita makan.
  • Endoskopi bisa digunakan untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus kecil dan untuk mendapatkan contoh jaringan untuk biopsi dari lapisan lambung. Contoh tersebut kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk mengetahui apakah lambung terinfeksi oleh Helicobacter pylori.
  • Kadang dilakukan pemeriksaan lain, seperti pengukuran kontraksi kerongkongan atau respons kerongkongan terhadap asam.

Pengobatan
  1. Bila tidak ditemukan penyebabnya, dokter akan mengobati gejala-gejalanya. Antasid atau penghambat H2 seperti cimetidine, ranitidine atau famotidine dapat dicoba untuk jangka waktu singkat.
  2. Bila orang tersebut terinfeksi Helicobacter pylori di lapisan lambungnya, maka biasanya diberikan bismuth subsalisilate dan antibiotik seperti amoxicillin atau metronidazole.
Jika mengalami kesulitan untuk buang air besar selama lebih dari tiga hari, kemudian ketika duduk atau jongkok mengeluarkan feses butuh waktu yang lama hingga lebih dari sepuluh menit, maka bisa jadi mengalami konstipasi (sembelit). Jika terlalu lama berada dalam keadaan ini, bisa berisiko untuk mengalami kanker usus besar.

Tahapan awal konstipasi biasanya mengakibatkan buang air besar kurang lancar. Tahapan selanjutnya, jika terus berlanjut maka akan mengakibatkan terjadinya diverticulosis (penonjolan bagian usus besar berbentuk bisul, kadang-kadang terjadi peradangan atau pecah dan kemudian terjadi infeksi) dan tahapan yang ekstrem akibat kekurangan serat yang cukup banyak dapat menyebabkan terjadinya kanker kolorektal.

Tanda-Tanda
1. Perut terasa penuh dan keras.
2. Memerlukan waktu yang lebih  lama  untuk mengeluarkan feses.
3. Tidak melakukan buang air besar selama lebih dari tiga hari.

Penyebab
1. Kurang mengonsumsi makanan berserat dalam menu sehari-hari.
2. Kurang melakukan aktivitas fisik seperti olahraga.
3. Sering menunda buang air besar ketika hasrat untuk buang air besar muncul.
4. Kehamilan.
5. Mengalami sakit sistiklibrosis atau kelenjar tiroid kurang aktif.
6. Mengonsumsi obat-obatan yang menyebabkan konstipasi.
7. Stres atau sedang berada dalam perjalanan.

Pencegahan
1. Banyak mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran yang berserat tinggi.
2. Rajin melakukan aktivitas fisik atau  berolahraga  sehingga pergerakan usus akan menjadi lebih lancar.
3. Banyak minum air putih untuk membantu melancarkan pergerakan kotoran ketika melalui usus.
Maag berasal dari bahasa Belanda yang artinya adalah lambung. Para pekerja dan pelajar banyak sekali yang mengeluhkan terjadinya penyakit maag ini dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bisa jadi ini adalah salah satu penyakit yang mendera banyak orang selain demam dan sakit kepala.

Tanda-Tanda

Ada beberapa tanda-tanda yang umumnya dialami oleh penderita maag. Berikut ini adalah beberapa gejala di antaranya.
  1. Merasakan sakit dan tidak nyaman pada perut.
  2. Bersendawa, perut kembung, mual, muntah, merasa penuh, atau merasa terbakar di perut bagian atas.
  3. Maag dapat muncul secara tiba-tiba dalam waktu yang singkat (akut), waktu yang lama (kronis), atau karena kondisi khusus, seperti adanya penyakit lain. Salah satu contoh maag akut adalah rasa tidak nyaman ketika mengonsumsi alkohol, kopi, atau makanan serta minuman lain yang memicu produksi asam lambung.

Penyebab

Ada banyak hal yang menyebabkan terjadinya maag, di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Ketidakcocokan terhadap satu jenis obat seperti asetosal (dikenal dengan aspirin), ibuprofen, atau suplemen kalium yang bisa mengakibatkan gangguan pada lambung.
  2. Terlambat makan sehingga asam yang dihasilkan oleh lambung mengikis dinding lambung dan akhirnya timbullah sakit maag.
  3. Terlalu banyak meminum kopi atau alkohol.
  4. Stres.
  5. Adanya infeksi bakteri Helicobacter pylori sebagai penyebab maag kronis.

Pencegahan

Maag merupakan penyakit yang bisa dicegah. Berikut ini adalah beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk mencegah datangnya maag:
  1. Jauhkan kebiasaan menunda waktu makan. Jika tidak menaati jadwal makan, hal tersebut akan mengakibatkan produksi asam lambung meningkat sehingga akan menimbulkan gangguan pada lambung.
  2. Mengurangi konsumsi jenis makanan yang asam dan pedas karena dapat memicu asam lambung.
  3. Jika sudah terkena penyakit maag, ketika terlambat makan sebaiknya jangan terlalu banyak mengonsumsi makanan karena akan membuat perut menjadi tambah sakit.
  4. Terkadang aktivitas yang padat acapkali menyebabkan waktu makan terlambat atau tak sempat. Agar maag tidak kambuh, sebaiknya membawa bekal dari rumah agar tidak kambuh alias tidak bertambah parah.
  5. Hindari stres.
  6. Berpikir positif terhadap banyak hal yang terjadi dalam hidup ini.